• UK
  • 06:51 25 Nov 2009
  • |    Jakarta
  • 13:51 25 Nov 2009

Perubahan Iklim

Climate Change

‘Perubahan Iklim adalah ‘masalah bari ini, bukan masalah esok hari’.
- Margaret Beckett MP (September 2006)

‘Negara termiskin dan orang-orang termiskin—dimanapun mereka tinggal—akan menderita paling banyak, dan harga yang harus dibayar akan ditanggung oleh negara yang paling sedikit menyebabkan perubahan iklim, dan paling tidak mampu beradaptasi dengan efek-efeknya’.
- The Secretary of State for Environment, Food & Rural Affairs, the Rt hon Hillary Benn MP (July 2007)

Kedutaan Besar Inggris Jakarta: Keamanan Iklim

Apakah isunya?
Perubahan iklim bukan merupakan tantangan lingkungan semata - tetapi merupakan ancaman terhadap perekonomi dan keamanan global. Bertambahnya bencana yang disebabkan cuaca ekstrim dan banjir tidak diragukan lagi akan memperburuk kekeringan, konflik, dan kemiskinan.

Tantangan internasional dalam sektor energi adalah untuk menjaga akses terhadap persediaan energi yang aman dan terjangkau bersamaan dengan usaha untuk mengurangi efek perubahan iklim.

Perubahan cuaca adalah ancaman global yang serius terhadap lingkungan dan perekonomian global. Stern Review dengan jelas menjelaskan mahalnya harga yang harus dibayar untuk tidak melakukan apa-apa. Berusaha mengatasi konsekuensi perubahan iklim—setelah terjadi—akan menghabiskan lima sampai dua puluh kali lipat biaya yang dikeluarkan bila menghentikannya saat ini. Anda dapat mengunduh Stern Review secara lengkap dari website HM Treasury.

Swiss Re, perusahaan re-asuransi kedua terbesar di dunia, telah mengestimasi biaya ekonomi pemanasan global dapat mencapai dua kali lipat, menjadi 150 milyar USD tiap tahunnya pada 10 tahun yang akan datang. Perubahan iklim adalah masalah global yang membutuhkan solusi global untuk mengurangi dampak akhirnya, dengan mengurangi emisi karbon dioksida dan gas-gas rumah hijau lainnya.


Bagi negara kepulauan yang sedang berkembang seperti Indonesia resikonya sangatlah nyata:
- Peningkatan level permukaan laut
- Punahnya hutan dan keragaman hayati
- Habisnya tanah yang dapat ditumbuhi
- Kekurangan air dan makanan yang terjangkau secara luas

Semuanya akan membawa masalah bagi bangsa Indonesia.

Apa yang harus dilakukan?

Inggris bekerja melalui Uni Eropa, G8, dan Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim untuk mencari cara untuk mencapai persetujuan global dalam upaya mengurangi perubahan iklim yang berbahaya.

Tujuan pemerintah Inggris dalam masalah perubahan iklim adalah untuk menstabilkan tingkat gas-gas rumah hijau untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya, dan untuk mengadaptasi perubahan iklim yang tidak dapat dihindari.

Pemerintah Inggris dan Uni Eropa menimbang bahwa pemanasan global harus dibatasi agar tidak melebihi 2 derajat Celcius dari peningkatan suhu yang terjadi selama masa pra-industri, untuk menghindari perubahan iklim yang membahayakan.

Hal krusial untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memastikan persetujuan global kerangka kerja yang realistik, kuat, tahan lama, dan adil utnuk periode pasca 2010, ketika target pertama dibawah Kyoto Protocol berakhir.

Conference of Parties/Meeting of Parties pada tahun 2007 untuk Konvensi Kerangka Kerja PBB bagi Perubahan Iklim diadakan di Bali, Indonesia, pada tanggal 3 – 14 Desember 2007. Delegasi Inggris, termasik staf Kedutaan Besar Inggris, memainkan peranannya di konfernsi yang berakhir dengan diadopsinya Bali roadmap, yang berisi sejumlah keputusan yang berorientasi ke masa depan yang mewakili beragam jalan mendasar untuk mencapai masa depan iklim yang aman. Detail selengkapnya dapat ditemukan di http://unfccc.int/meetings/cop_13/items/4049.php

Apa yang kita lakukan di Indonesia?

Pada tanggal 30 Maret 2006 Presiden Yudhoyono dan Tony Blair menyatakan komitmen mereka bagi Indonesia dan Inggris untuk berkerja bersama-sma dalam rangka mencapai kemitraan yang modern dan dinamis. Hal ini mencakup:

- mendirikan Forum Kemitraan Indonesia-Inggris secara regular yang dipimpin oleh menteri luar negeri
- komitmen untuk berkerja bersama-sama untuk mempromosikan pembangunan yang bekelanjutan
- kerjasama dalam bidang lingkungan hidup
- memberantas pembalakan liar
- kerja sama Inggris dan Indonesia untuk mengatasi isu-isu perubahan iklim

Pertemuan inagural Forum Kemitraan Indonesia-Inggris diadakan di London pada tanggal 31 Januari 2007. Pada pertemuan tersebut, Inggris dan Indonesia menyetujui mendesknya bekerja untuk mengatasi perubahan iklim dan mengusahakan kerjasama seluas mungkin dalam usaha internasional yang ekktif dibawah kerangka UNFCCC untuk mengurangi emisi, baik dari produksi energi dan penggundulan hutan. Kedua negara setuju untuk mencari jalan dimana meraka dapat lebih lanjut memperluas kerjasama mengenai perubahan iklim, energi dan pembangunan berkelanjutan, termasuk kerjasama dalam mempromosikan efisiensi energi dan sumber energi terbarui dan memfasilitasi transfer teknologi.

Siapa saja mitra kami di Indonesia?

Kedutaan Inggris di Jakarta bekerja dengan beragam pemangku kepentingan dalam isu Keamanan Iklim. Kami bekerja dengan Kementrian di Indonesia dalam kerjasama bilateral di masa yang akan datang mengenai perubahan iklim dalam kerangka kerja Forum Kemitraan Indonesia-Inggris.

Kami juga telah menjalin hubungan dengan LSM, media, kelompok agama dan keyakinan, dan organisasi bisnis dan pendidikan.

Kedutaan Inggris mengkoordinasikan usahanya di masing-masing negara dengan Departemen untuk Pembangunan Internasional Inggris, dan British Council. Kami juga bekerja erat dengan departemen pemerintah Inggris lainya termasuk Departemen Lingkungan, Pertanian, dan Pedesaan (Defra) untuk mendukung pekerjaan penting mereka di luar negeri.

Kunjungan anggota Parlemen Indonesia ke London: Kedutaan Inggris memberikan sponsor bagi tiga anggota parlemen dari Komisi Lingkungan, Enrgi, Sumber Daya Mineral, Riset dan Teknologi, untuk mengunjungi Londong pada tanggal 4 – 7 Maret 2008.

Mereka bertemu dengan pemimpin politik, pegawai negeri, dan akademisi yang berfokus pada legislasi, isu, serta kebijakan lingkuangan hidup dan perubahan iklim. Mereka dibekali dengan tinjauan mengenai efek-efek kebijakan mengenai perubahan iklim terhadap komunitas Inggris dan bagaimana tantangan-tantangan sosial dan ekonomi ditangani di Inggris dan secara global.

Islam dan Konferensi Lingkungan Hidup: Hubungan kedutaan Inggris yang telah terjalin dengan Universitas Islam Nasional (UIN) dibuktikan dalam konferensi yang diadakan pada tanggal 14 november 2007, yang diberi judul “Integrasi Nilai-nilai Integrasi dalam Merespon Tantangan-tantangan Lingkungan Hidup Global dan Nasional”.

Akademisi Inggris Dr Fazlun Khalid, pendiri the Islamic foundation for Ecology and Environmental Sciences, berbicara bersama dengan akademisi Islam terkemuka Profesor Azyumardi Azra. Asisten menteri Henri Bastaman juga berbicara mengenai pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di area ini. Ketiga pembicara ini menyetujui tanggungjawab kemanusiaan untuk melindungi dan penjaga sumber daya bumi.

Konsep “hima” dan “al-harim” dalam Islam secara khusus tepat untuk tantangan lingkungan hidup saat ini. Resepsi selanjutnya dihadiri dan memungkinkan komunitas Islam dan lingkungan untuk mendiskusikan detail lanjutan kegiatan tersebut.





Back to top